Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Makalah Perbedaan Pendidikan Jasmani dan Olahraga

Menulis-Online.Com. Makalah Perbedaan Pendidikan Jasmani dan Olahraga
PENDAHULUAN
Di Sekolah, Salah satu pertanyaan yang sangat sering diajukan oleh guru-guru penjas adalah : “Apakah pendidikan jasmani?” Pertanyaan yang cukup aneh ini justru dikemukakan oleh yang paling berhak menjawab pertanyaan tersebut. Hal tersebut mungkin terjadi karena pada waktu sebelumnya guru itu merasa dirinya bukan sebagai guru penjas, melainkan guru olahraga. Perubahan pandangan itu  menyusul perubahan nama mata pelajaran wajib dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, dari mata pelajaran pendidikan olahraga dan kesehatan (Orkes) dalam kurikulum 1984, menjadi mata pelajaran “Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan” (PJOK) dalam kurikulum 2013.
Perubahan nama tersebut tidak dilengkapi dengan sumber belajar yang menjelaskan makna dan tujuan kedua istilah tersebut. Akibatnya sebagian besar guru menganggap bahwa perubahan nama  itu tidak  memiliki perbedaan, dan pelaksanaannya dianggap sama. Padahal muatan filosofis dari kedua istilah di atas sungguh berbeda, sehingga tujuannya pun berbeda pula.
Makalah Perbedaan Pendidikan Jasmani dan Olahraga

Rumusan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini yang akan menjadi permasalahan adalah :
1.Apa hakikat dari Pendidikan Jasmani?
2. Apa hakikat dari Olahraga?
3. Apa perbedaan Pendidikan Jasmani dan Olahraga?

PEMBAHASAN

A. Hakikat Pendidikan Jasmani
Kata fisik atau jasmani (physical) menunjukkan pada tubuh atau badan (body). Kata fisik seringkali digunakan sebagai referensi dalam berbagai karakteristik jasmaniah, seperti kekuatan fisik (physical strength), perkembangan fisik (physical development), kesehatan fisik (physical health). dan penampilan fisik (physical appearance). Kata fisik dibedakan dengan jiwa atau fikiran (mind). Oleh karena itu, jika kata pendidikan (education) ditambahkan dalam kata fisik, maka membentuk frase atau susunan kata pendidikan fisik atau pendidikan jasmani (physical education), yakni menunjukkan proses pendidikan tentang aktivitas-aktivitas yang mengembangkan dan memelihara tubuh manusia.
Nixon and Cozens (1963: 51) mengemukakan bahwa pendidikan jasmani didefinisikan sebagai fase dari seluruh proses pendidikan yang berhubungan dengan aktivitas dan respons otot yang giat dan berkaitan dengan perubahan yang dihasilkan individu dari respons tersebut. Dauer dan Pangrazi (1989: 1) mengemukakan bahwa pendidikan jasmani adalah fase dari program pendidikan keseluruhan yang memberikan kontribusi, terutama melalui pengalaman gerak, untuk pertumbuhan dan perkembangan secara utuh untuk tiap anak. Pendidikan jasmani didefinisikan sebagai pendidikan dan melalui gerak dan harus dilaksanakan dengan cara-cara yang tepat agar memiliki makna bagi anak. Pendidikan jasmani merupakan program pembelajaran yang memberikan perhatian yang proporsional dan memadai pada domain-domain pembelajaran, yaitu psikomotor, kognitif, dan afektif.
Bucher, (1979) mengemukakan pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari suatu proses pendidikan secara keseluruhan, adalah proses pendidikan melalui kegiatan fisik yang dipilih untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan organik, neuromuskuler, interperatif, sosial, dan emosional.

Ateng (1993) mengemukakan; pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan melalui berbagai kegiatan jasmani yang bertujuan mengembangkan secara organik, neuromuskuler, intelektual dan emosional. Definisi Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotorik, kognitif, dan afektif setiap siswa.


Pendidikan jasmani diartikan sebagai pendidikan melalui dan dari aktivitas fisik. Siedentop (1991) memaparkan bahwa “Education through and of physical activity”. Permainan, rekreasi, ketangkasan, olahraga, kompetisi, dan aktivitas-aktivitas fisik lainnya, merupakan materi-materi yang terkandung dalam pendidikan jasmani karena diakui mengandung nilai-nilai pendidikan yang hakiki.


Tahapan Belajar Gerak (dalam Pendidikan Jasmani)

Ada tiga tahapan belajar yang harus dilalui siswa untuk dapat mencapai tingkat keterampilan yang sempurna (otomatis). Tiga tahapan belajar ini harus dilakukan secara berurutan. Apabila ketiga tahapan belajar gerak ini tidak dilakukan oleh guru pada saat mengajar pendidikan jasmani, maka guru tidak boleh mengharap banyak dari apa yang selama ini mereka lakukan, khususnya untuk mencapai tujuan pendidikan jasmani yang ideal. Tahapan belajar gerak yang dimaksud adalah : tahap kognitif, tahap asosiatif/fiksasi, tahap otamatis.

1. Tahap Kognnitif

Pada tahap ini, guru setiap akan memulai mengajarkan suatu keterampilan gerak pertama kali yang harus dilakukan adalah memberikan informasi untuk menanamkan konsep-konsep tentang apa yang akan dipelajari oleh siswa dengan benar dan baik. Setelah siswa memperoleh informasi tentang apa, mengapa, dan bagaimana cara melakukan aktivitas gerak yang akan dipelajari, diharapkan di dalam benak siswa telah terbentuk motor-plan, yaitu keterampilan intelektual dalam merencanakan keterampilan gerak. Apabila tahap kognitif ini tidak mendapatkan perhatian oleh guru dalam proses belajar gerak, maka sulit bagi guru untuk menghasilkan anak yang terampil mempraktekkan aktivitas gerak yang menjadi prasyarat tahap belajar berikutnya.

2. Tahap Asosiatif/Fiksasi

Pada tahap ini siswa mulai mempraktekkan gerak sesuai dengan konsep-konsep yang telah mereka ketahui dan pahami sebelumnya. Tahap ini  juga sering disebut sebagai tahap latihan. Pada tahap latihan ini siswa diharapkan mampu mempraktekkan apa yang hendak dikuasai dengan cara mengulang-ulang sesuai dengan karakteristik gerak yang dipelajari. Apakah gerak yang dipelajari itu gerak yang melibatkan otot halus atau otot kasar atau gerak terbuka atau tertutup? Apabila siswa telah melakukan latihan dengan benar dan baik, dan dilakukan secara berulang baik disekolah maupun diluar sekolah, maka pada akhir tahap ini siswa diharapkan telah memiliki keterampilan yang memadai.

3. Tahap otomatisasi

Pada tahap ini siswa telah dapt melakukan aktivitas secara terampil, karena siswa telah memasuki tahap gerakan otomatis, artinya, siswa dapat merespon secara cepat dan tepat terhadap apa yang ditugaskan oleh guru untuk dilakukan. Tanda-tanda keterampilan gerak tahap otomatis adalah bila seorang siswa dapat mengerjakan tugas gerak tanpa berpikir lagi terhadap apa yang akan dan sedang dilakukan dengan hasil yang baik dan benar.

Ruang lingkup Pendidikan Jasmani

1. Permainan dan olahraga meliputi : olahraga tradisional, permainan. eksplorasi gerak, keterampilan lokomotor non-lokomotor, dan manipulatif, atletik, kasti, rounders, kippers, sepak bola, bola basket, bola voli, tenis meja, tenis lapangan, bulu tangkis, dan beladiri, serta aktivitas lainnya.
2. Aktivitas pengembangan meliputi : mekanika sikap tubuh, komponen kebugaran jasmani, dan bentuk postur tubuh serta aktivitas lainnya.
3. Aktivitas senam meliputi : ketangkasan sederhana, ketangkasan tanpa alat, ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta aktivitas lainnya.
4. Aktivitas ritmik meliputi : gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam aerobic serta aktivitas  lainnya.
5. Aktivitas air meliputi : permainan di air, keselamatan air, keterampilan bergerak di air, dan renang serta aktivitas lainnya.
6. Pendidikan luar kelas, meliputi : piknik/karyawisata, pengenalan lingkungan, berkemah, menjelajah, dan mendaki gunung. 
7. Kesehatan, meliputi : penanaman budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya yang terkait dengan perawatan tubuh agar tetap sehat, merawat lingkungan yang sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah dan merawat cidera, mengatur waktu istirahat yang tepat dan berperan aktif dalam kegiatan P3K dan UKS. Aspek kesehatan merupakan aspek tersendiri, dan secara implisit masuk ke dalam semua aspek.

B. Hakikat Olahraga

Olahraga merupakan bagian yang nampaknya tidak bisa dipisahkan dari pendidikan jasmani serta saling mempengaruhi satu sama lainnya. Olahraga cukup mendominasi muatan kurikulum pendidikan jasmani pada semua tingkatan persekolahan. Demikian juga dalam prakteknya, selain bentuk olahraga yang sering mendominasi, juga olahraga ini sangat digemari baik oleh guru maupun siswanya.
Olahraga berasal dari dua suku kata yaitu olah dan raga yang berarti memanipulasi raga dengan tujuan membuat raga menjadi matang (Ateng, 1993). Makna olahraga menurut ensiklopedia Indonesia adalah gerak badan yang dilakukan oleh satu orang atau lebih yang merupakan regu atau rombongan. Sedangkan dalam Webster’s New Collegiate Dictonary (1980) yaitu ikut serta dalam aktivitas fisik untuk mendapatkan kesenangan, dan aktivitas khusus seperti berburu atau dalam olahraga pertandingan (athletic games di Amerika Serikat).
Olahraga pada hakikatnya menurut Harsono (1988) adalah “the big muscles activity”. Hampir sama dengan pendapat Kemal dan Supandi (1990) yang menjelaskan bahwa olahraga pada hakikatnya adalah “aktivitas otot besar yang menggunakan energy tertentu untuk meningkatkan kualitas hidup”. Sedangkan Ateng (1993) mengungkapkan bahwa “ciri-ciri hakiki olahraga adalah: 1) Aktivitas fisik, 2) Permainan, 3) Pertandingan. Ketiganya dipayungi semangat fair play/Sportif.
UNESCO mendefinisikan olahraga sebagai “setiap aktivitas fisik berupa permainan yang berisikan perjuangan melawan unsur-unsur alam, orang lain, ataupun diri sendiri”. Sedangkan Dewan Eropa merumuskan olahraga sebagai “aktivitas spontan, bebas dan dilaksanakan dalam waktu luang”. Definisi terakhir ini merupakan cikal bakal panji olahraga di dunia “Sport for All” dan di Indonesia tahun 1983, “memasyarakatkan olahraga dan mengolahragaka masyarakat” (Rusli dan Sumardianto, 2000:6).

Menurut Cholik Mutohir olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/pertandingan, dan prestasi puncak dalam pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila.


Untuk penjelasan pengertian olahraga menurut Edward (1973), olahraga harus bergerak dari konsep bermain, games, dan sport. Ruang lingkup bermain mempunyai karakteristik antara lain; a) Terpisah dari rutinitas, b) Bebas, c) Tidak produktif, d) Menggunakan peraturan yang tidak baku. Ruang lingkup pada games mempunyai karakteristik; a) Ada kompetisi, b) Hasil ditentukan oleh keterampilan fisik, strategi, kesempatan. Sedangkan ruang lingkup sport; permainan yang dilembagakan.


Ruang Lingkup Olahraga

1. Olahraga pendidikan adalah olahraga yang dilaksanakan sebagai bagian proses pendidikan yang teratur dan berkelanjutan untuk memperoleh pengetahuan, kepribadian, keterampilan, kesehatan, dan kebugaran jasmani (proses pembinaan menekankan penguasaan keterampilan dan ketangkasan berolahraga nilai-nilai kependidikan melalui pembekalan pengalaman yang lengkap sehingga yang terjadi adalah proses sosialisasi melalui dan kedalam olahraga);
2. Olahraga rekreatif adalah olahraga yang dilakukan oleh masyarakat dengan kegemaran dan kemampuan yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi dan nilai budaya masyarakat setempat untuk kesehatan, kebugaran, dan kesenangan (jenis kegiatan olahraga yang menekankan pencapaian tujuan yang bersifat rekreatif atau manfaat dari aspek jasmaniah dan sosial-psikologis);
3. Olahraga kompetitif adalah olahraga yang membina dan mengembangkan olahragawan secara terencana, berjenjang, dan berkelanjutan melalui kompetisi untuk mencapai prestasi dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan (jenis kegiatan olahraga yang menitik beratkan peragaan performa dan pencapaian prestasi maksimal yang lazimnya dikelola  oleh organisasi olahraga formal, baik nasional  maupun internasional).
4. Olahraga kesehatan adalah jenis kegiatan olahraga yang lebih menitik beratkan pada upaya mencapai tujuan kesehatan dan fittnes yang tercakup dalam konsep well-being melalui kegiatan olahraga;
5. Olahraga rehabilitatif adalah jenis kegiatan olahraga, atau latihan jasmani yang menekankan tujuan bersifat terapi atau aspek psikis dan perilaku;

Nilai-Nilai Olahraga

Nilai-nilai dalam berolahraga menjadi sebuah refleksi dari nilai-nilai masyarakat yang mana olahraga dapat mengajari nilai-nilai tersebut bagi para pelakunya atau para partisipasinya.

1.Nilai Sosial

Olahraga telah didefenisikan sebagai aktivitas yang melibatkan : 1) Keterampilan fisik, 2) Kompetensi institusional, 3) dan kombinasi antara motivasi instrinsik dan ekstrinsik pada setiap perilaku olahraga. Hal lain yang perlu diingat adalah bahwa olahraga hanya menjadi sebuah alat yang memungkinkan kita untuk memberikan perhatian pada masalah organisasi sosial, dinamika sosial, dan konsekuensi dari visibilitas yang tiinggi mengenai popularitas olahraga di Negara-negara seluruh dunia. Sejauh ini, para ahli dalam bidang ilmu sosial telah menemukan bahwa ada cara terbaru dalam melihat dan menganalisa fenomena-fenomena sosial termasuk olahraga.

2. Nilai Masa Silam 

Sepanjang sejarah manusia aktivitas olahraga dan bermain selalu berhubungan secara integral dengan aspek sosial, politik, dan ekonomi. Olahraga telah memberi pengaruh pada kehidupan manusia; tidak pernah sebelumnya orang memiliki waktu luang, dan tidak pernah sebelumnya memiliki aktivitas fisik yang dikaitkan dengan patrotisme, kesehatan pribadi, dan membangun karakter. Segala sesuatu telah menjadikan olahraga sebagai bagian dalam fenomena sosial di masa lalu dan sekarang.

3. Nilai Kompetisi 

Olahraga prestasi dipandang sebagai sebuah profesi dimana seseorang dipersiapkan untuk bisa hidup melalui olahraga. Selain itu seseorang juga bisa bisa belajar dari pengalamannya dalam olahraga prestasi dimana olahraga tidak digunakan sebagai metapora hidup. Tekanan olahraga sebagai persiapan hidup sering dicampur aduk dengan pengalaman kompetisi dalam olahraga terutama dalam konteks belajar dan mencari jati diri. 

4. Nilai Organisasi 

Menurut beberapa literatur bahwa keikut sertaan anak-anak dalam program olahraga menjadi model dalam membentuk karakter anak kearah yang lebih baik. Namun konsekuensi lain dari keikutsertaan tersebut sering kali memunculkan sikap-sikap yang positif dan negatif pada anak. Hal ini disebabkan karena setiap lingkungan dimana anak itu berolahraga berbeda sehingga pengalaman yang didapatinya berbeda pula.

3. Perbedaan Pendidikan Jasmani dan Olahraga

Pendidikan Jasmani berarti program pendidikan lewat gerak atau permainan dan olahraga. Di dalamnya terkandung arti bahwa gerakan, permainan, atau cabang olahraga tertentu yang dipilih hanyalah alat  untuk mendidik. Mendidik apa? Paling tidak fokusnya pada keterampilan anak. Hal ini dapat berupa keterampilan fisik dan motorik,  keterampilan berpikir dan keterampilan  memecahkan masalah, dan bisa juga keterampilan emosional dan sosial. Karena itu, seluruh adegan pembelajaran dalam mempelajari gerak dan olahraga tadi  lebih penting dari pada hasilnya. Dengan demikian, bagaimana guru memilih metode, melibatkan anak, berinteraksi dengan murid serta merangsang interaksi murid dengan murid lainnya, harus menjadi pertimbangan utama.

Adapun Olahraga adalah program pembinaan yang membina anak agar menguasai cabang-cabang olahraga tertentu. Kepada murid diperkenalkan berbagai cabang olahraga agar mereka menguasai keterampilan berolahraga. Yang ditekankan adalah “hasil” dari pembinaann itu, sehingga metode pengajaran serta pengajaran serta bagaimana anak menjalani pembelajarannya didikte oleh tujuan yang ingin dicapai.


Istilah olahraga yang digunakan disini merupakan sebuah istilah generik, sehingga pengertian tidak terbatas pada pengertian sempit olahraga prestasi-kompetitif-elit untuk segelintir individu berkemampuan super yang pelaksanaannya dikelola secara formal seperti biasa dijumpai dalam cabang-cabang olahraga resmi, tetapi juga jenis-jenis aktivitas jasmani lainnya yang bersifat informal. Olahraga sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh, dengan berolahraga metabolisme tubuh menjadi lancer sehingga distribusi dan penyerapan nutrisi dalam tubuh menjadi lebih efektif dan efisien.


PERBEDAAN ANTARA PENDIDIKAN JASMANI DENGAN OLAHRAGA SECARA SEDERHANA

Perbedaan Antara Pendidikan Jasmani dan Olahraga

Pendidikan Jasmani

Sosialisasi atau mendidik via  olahraga
Menekankan perkembangan kepribadian menyeluruh
Menekankan penguasaan keterampilan dasar

Olahraga

Sosialisasi atau mendidik ke dalam olahraga
Mengutamakan penguasaan Keterampilan berolahraga
Menekankan penguasaan  teknik dasar

4 Aspek yang membedakan antara Pendidikan Jasmani dengan Olahraga antara lain:


1. Tujuan Pendidikan Jasmani disesuaikan dengan tujuan pendidikan yang menyangkut pengembangan seluruh pribadi anak didik, menekankan pada proses, sedangkan tujuan Olahraga adalah mengacu pada prestasi unjuk laku motorik setinggi-tingginya untuk dapat memenangkan dalam pertandingan, menekankan hasil.

2. Isi Pembelajaran dalam pendidikan jasmani disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak didik, sedangkan pada olahraga isi pembelajaran atau isi latihan merupakan target yang harus dipenuhi.
3. Orientasi Pembelajaran pada pendidikan jasmani berpusat pada anak didik. Artinya anak didik yang belum mampu mencapai tujuan pada waktunya diberi kesempatan lagi, sedangkan pada olahraga atlet yang tidak dapat mencapai tujuan sesuai dengan target waktu dianggap tidak berbakat dan harus diganti dengan atlet lain.
4. Sifat kegiatan pendidikan jasmani pada pemanduan bakat yang dipakai untuk mengetahui entry behavior, sedangkan pada olahraga bertujuan untuk memilih atlet berbakat.

Kesimpulan

Perbedaan Penjas dan Olahraga. Penjas, sosialisasi atau mendidik via olahraga sedangkan Olahraga, sosialisasi atau mendidik ke dalam olahraga; Perbedaan Penjas dan Olahraga. Penjas, menekankan perkembangan kepribadian menyeluruh sedangkan Olahraga, mengutamakan penguasaan Keterampilan berolahraga; Perbedaan Penjas dan Pendidikan Olahraga. Penjas, menekankan penguasaan keterampilan dasar Olahraga, menekankan penguasaan  teknik dasar, Ada 4 aspek yang membedakan pendidikan jasmani dan Olahraga yaitu dari Tujuan, Isi Pembelajaran, Orientasi Pembelajaran, Sifat kegiatan