Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pembelajaran Konstruktivisme dan Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)


Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
Kata kontekstual berasal dari bahasa Inggris, yakni contextual yang memiliki arti sesuai dengan konteks atau dalam konteks. Pendekatan kontekstual merupakan pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk menghubungan materi dengan realitas kehidupan nyata. Pembelajaran tersebut akan bermakna dikarenakan materi yang dipelajari di sekolah berkaitan dengan kehidupan siswa serta mendorong siswa untuk menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kelebihan utama kontekstual adalah:
a. menghubungkan materi terhadap dunia nyata, dan
b. mengaplikasikan materi dalam kehidupan siswa (aplikatif).

Terdapat lima karakteristik penting dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual (Sanjaya, 2016: 256), yaitu:
  1. Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activing knowledge), artinya materi yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari.
  2. Pembelajaran yang kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge).
  3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), pengetahuan bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami secara mendalam.
  4. Mempraktikan pengetahuan (applying knowledge). Pengetahuan yang didapat harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan prilaku.
  5. Melakukan refleksi (reflectif knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Dilakukan untuk perbaikan dan penyempurnaan.


Terdapat perbedaan mengenai pendekatan kontekstual dengan pendekatan konvensional.

Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Konvensional

Komponen Pembelajaran Konstruktivisme
Secara garis besar, terdapat tujuh komponen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, yaitu sebagai berikut:
  1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara membangun pengetahuan baru dengan dimulai dari pengetahuan awal siswa (Konstruktivisme).
  2. Mendorong siswa dalam kegiatan menemukan untuk semua topik (Inquiry). Karena pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan dari hasil mengingat seperangkat fakta-fakta yang disampaikan guru, tetapi hasil dari menemukan sendiri.
  3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya (Questioning). Belajar hakikatnya merupakan proses bertanya dan menjawab pertanyaan. Melalui bertanya, dapat mengarahkan siswa dalam membangun pengetahuan. Kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam rangka menggali informasi, mengonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.
  4. Menciptakan masyarakat belajar atau belajar dalam kelompok-kelompok (Learning Community). Hasil belajar diharapkan diperoleh dari kegiatan diskusi antarteman dan antarkelompok. Mendorong siswa berinteraksi dengan teman dan membangun tanggung jawab individu serta saling ketergantungan positif dalam kelompok.
  5. Memberikan model sebagai contoh pembelajaran (Modeling). Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bias ditiru oleh siswa, misalnya tentang cara mengoperasikan sesuatu. Perlu diingat bahwa guru bukan satu-satunya yang dapat memberikan model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa.
  6. Melakukan refleksi di akhir pertemuan (Reflection), yaitu mendorong siswa untuk berpikir tentang apa yang baru dipelajari serta kegiatan yang telah dilakukan.
  7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara (Authentic Assesment). Assesment merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Penilaian tidak berorientasi pada hasil, akan tetapi pada proses. Salah satunya dapat dilakukan dengan penilaian portofolio.


Tentang Inquiry
Konstruktivisme meyakini bahwa pengetahuan baru dapat dibangun berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Mengkonstruksi pengetahuan dapat dilakukan dalam konteks sosial, siswa berinteraksi dalam upaya membangun konsep baru. Discovery dengan inquiry merupakan kegiatan pembelajaran yang melatih siswa untuk berpikir logis, kritis, analitis menuju suatu kesimpulan yang meyakinkan.

Menurut Joyce dan Weil (Hidayati dkk. 2008: 6.10) inkuiri memiliki 5 tahap:

Sintaksis Pembelajaran Inkuiri

Sund (Hidayati dkk. 2008: 6.3) menyatakan bahwa discovery adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip. Proses mental tersebut, misalnya, mengamati, mengklasifikasi, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, dan membuat kesimpulan.
Sedangkan inkuiri dibentuk meliputi discovery, dengan perkataan lain inkuiri adalah perluasan proses discovery yang digunakan lebih mendalam. Artinya proses inkuiri mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya merumuskan masalah, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan mengalisis data, dan menarik kesimpulan.